- us Muhammad Mursid Al-Amien kuliah Maghrib Ahad 3-Mei-2026
Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 18:66 hingga 71 - Adab Menuntut Ilmu
Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir dlm surah Al-Kahfi
Pembesar-pembesar Mekah kebanyakannya adalah org-org politik. Jadi mereka akan rujuk kpd pendeta (ahli kitab) utk urusan ibadat. Byk kisah-kisah umat terdahulu disampaikan oleh para pendeta termasuk kisah al-Kahfi. Kisah Al-Kahfi ini seperti kisah yg mereka amat faham.
Kaum Quraisy di Makkah, terutama melalui dua tokoh seperti al‑Nadhr bin al‑Harits dan Uqbah bin Abi Mu‘īth, menantang Nabi agar mendatangkan wahyu yang dapat menjawab tiga perkara yang mereka anggap rumit:
- kisah pemuda Ashabul Kahfi (golongan yang beriman dan berlindung di gua),
- kisah Zulkarnain (raja yang adil dan kuat), dan
- persoalan roh (ruh).
Mereka berharap Nabi Muhammad ﷺ akan gagal menjawab soalan-soalan yg diajukan, (tujuannya) sehingga dakwah baginda terlihat lemah. Namun, Allah menurunkan surah Al‑Kahfi yang mengandungi kisah‑kisah ini sekaligus menjawab dan mematikan keegoan ketua-ketua/pendeta/org-org kafir Mekah.
Surah Al-Kahfi ayat 18:66 (klik sini)
{ قَالَ لَهُۥ مُوسَىٰ هَلۡ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰٓ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ رُشۡدٗا }
Nabi Musa berkata kepadanya: Bolehkah aku mengikutmu, dengan syarat engkau mengajarku dari apa yang telah diajarkan oleh Allah kepadamu, ilmu yang menjadi petunjuk bagiku?"
Surah Al-Kahfi ayat 18:67 (klik sini)
{ قَالَ إِنَّكَ لَن تَسۡتَطِيعَ مَعِيَ صَبۡرٗا }
Ia menjawab: "Sesungguhnya engkau (wahai Musa), tidak sekali-kali akan dapat bersabar bersamaku.
- Dari ayat 67, beberapa prinsip pendidikan dapat diambil:
- Guru harus menilai terlebih dahulu kebolehan dan kecenderungan murid, bukan hanya umur atau akademik.
- Penilaian boleh disampaikan secara jujur tetapi lembut, seperti kaeadah Nabi Khidir as: ia tidak memandang rendah Nabi Musa, tetapi mengingatkan keterbatasan murid (ie syarat-syarat utk belajar darinya).
- Penilaian awal ini menjadi dasar penetapan syarat dan gaya pembelajaran.
- (Misalnya) murid yang mudah tergesa‑gesa perlu diberi lebih banyak latihan sabar dan refleksi. bukan hanya dihukum ketika salah.
Surah Al-Kahfi ayat 18:68 (klik sini)
{ وَكَيۡفَ تَصۡبِرُ عَلَىٰ مَا لَمۡ تُحِطۡ بِهِۦ خُبۡرٗا }
Dan bagaimana engkau akan sabar terhadap perkara yang engkau tidak mengetahuinya secara meliputi?
Surah Al-Kahfi ayat 18:69 (klik sini)
{ قَالَ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ صَابِرٗا وَلَآ أَعۡصِي لَكَ أَمۡرٗا }
Nabi Musa berkata: "Engkau akan dapati aku, Insyaa Allah: orang yang sabar; dan aku tidak akan membantah sebarang perintahmu".
Surah Al-Kahfi ayat 18:70 (klik sini)
{ قَالَ فَإِنِ ٱتَّبَعۡتَنِي فَلَا تَسۡـَٔلۡنِي عَن شَيۡءٍ حَتَّىٰٓ أُحۡدِثَ لَكَ مِنۡهُ ذِكۡرٗا }
Ia menjawab: "Sekiranya engkau mengikutku, maka janganlah engkau bertanya kepadaku akan sesuatupun sehingga aku ceritakan halnya kepadamu".
- Adab berguru - dalam konteks pembelajaran masa kini, ayat 70 dapat ditafsirkan sebagai:
- Guru (pengajar) boleh menetapkan peraturan proses belajar:
- (i) murid diberi peluang memerhati, menganalisis, dan refleksi,
- (ii) sebelum diberi ruang penuh bertanya atau mengkritik.
- Murid diajarkan:
- (i) tidak cepat menghukum tindakan atau kaedah guru yang tidak difahami,
- (ii) tetapi menunggu penjelasan ilmiah dan percaya kepada integriti guru selagi ia tidak bercanggah dengan syariat.
Surah Al-Kahfi ayat 18:71 (klik sini)
{ فَٱنطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَا رَكِبَا فِي ٱلسَّفِينَةِ خَرَقَهَاۖ قَالَ أَخَرَقۡتَهَا لِتُغۡرِقَ أَهۡلَهَا لَقَدۡ جِئۡتَ شَيۡـًٔا إِمۡرٗا }
Lalu berjalanlah keduanya sehingga apabila mereka naik ke sebuah perahu, ia membocorkannya. Nabi Musa berkata: "Patutkah engkau membocorkannya sedang akibat perbuatan itu menenggelamkan penumpang-penumpangnya? Sesungguhnya engkau telah melakukan satu perkara yang besar".
- Dalam menuntut ilmu:
- Jangan lihat hanya sebab‑sebab mula (perbuatan nampak aneh), tetapi tunggu kesudahan dan penjelasan hikmah.
- Ambil masa untuk memerhati, merenung, dan merujuk kepada orang yang lebih arif, sebelum melontarkan kritikan yang keras.
- Jangan terlalu cepat menghukum kaedah atau tindakan guru yang belum difahami, terutama dalam ilmu yang berunsur hikmah dan takdir (misalnya maqasid syariah, fiqh siyasah, usul, dsb.).
- Murid yang benar‑benar mahu menuntut ilmu perlu mampu menahan diri dan tidak reaktif/gelojoh terhadap perkara yang tidak difahami.
No comments:
Post a Comment